Kepada Malam

Hai malam.
Bagaimana rasanya menjadi kamu?
Menjadi puisi bertemankan sunyi.
Menjadi jeda di antara gelap.
Menjadi bara tanpa pelita. 

Hai malam.
Apa kau tidak lelah menyendiri?
Berbajukan pilu, kau melangkah keluar. Menggantikan senja, menggantikan cipta, cita, dan cinta yang mereka sebut sebagai indah. Kau berdiri, sendiri. Tidak peduli dengan hirauan mereka.
Kau tersenyum, pahit.
Kau melirik kepada dua saudaramu, bulan serta bintang. Lalu, kau paham, mereka bukanlah kamu.
Bukan sosok dingin yang tatapnya menusuk tulang.
Bukan sosok manis yang menghibur dalam luka.
Bukan sosok dewi yang dicintai kesendirian.
Bukan sosok yang tak diinginkan.

Hai malam.
Di antara yang membencimu, aku mencintaimu.
Aku bisa merasakanmu. Mendekapku erat, lekat, hingga mati pun terasa dekat.
Kau, malam. Kau berbalut kalut. Sendiri, kau tangisi dirimu.
Andai kata aku menjadi langit di setiap kau ada, aku tidak akan membiarkanmu berduka. Pedihmu biar aku yang menyangga. Hingga tidak lagi hampa memeluk ragamu. Hingga tidak lagi kau tertawa dalam tangismu.

Hai malam.
Ini surat pertamaku untukmu.
Jangan pikirkan aku, aku hanya seorang yang mengagumi keindahanmu.
Aku berdoa. Semoga kelak, bahagia ialah warna hidupmu.
Aku tidak sabar bertemu denganmu nanti, sayang.

Aku,
 
 
Pemujamu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s