Cryptid : Kongamato, Burung Pra-Sejarah dari Afrika

Sekitar 65 juta tahun yang lalu, berawal dari masa Jurassic dan berakhir pada masa Cretaceorus, hiduplah mahluk reptil terbang raksasa yang dikenal sebagai Pterosaurus. Mayoritas dari kerangka Pterosaurus ini kebanyakan ditemukan diwilayah lautan yang kemungkinan berarti mereka adalah pemakan ikan dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka diwilayah pesisir perairan.


Pterosaurus dikatakan merupakan reptil terbang yang berhasil terbang tanpa menggunakan bulu-bulu pada sayapnya, Fitur utama aerodinamis mereka adalah membran pada sayap mereka yang ditunjang oleh keempat jari memanjang yang sangat besar. Pterosaurus juga memiliki tungkai tulang yang berongga dan tulang dada yang besar yang melekat pada otot sayap yang kuat yang mana diperlukan untuk penerbangan bukan hanya digunakan untuk meluncur.

Mayoritas spesies dari Pterosaurus ini dimana saja dapat ditemukan mulai dari seukuran burung gereja hingga yang berukuran besar seperti burung elang, namun beberapa spesies yang lebih besar juga diketemukan seperti Pteranodon yang mempunyai rentang sayap sepanjang 27 kaki dan Quetzalcoaltus yang terkenal yang memiliki rentang sayap 50 bahkan hingga 60 kaki. Beberapa Pterosaurus bahkan memiliki bulu walaupun keturunan mereka yang memiliki bulu tersebut saat ini menjadi kelompok mamalia. Tampaknya mustahil bahwa ada Pterosaurus yang dapat hidup hingga saat ini, terlebih lagi jika saat ini mereka eksis pastilah orang-orang akan sering melihat mereka berburu makanan jadi bagaimana bisa ada sekelompok reptil terbang yang tetap tersembunyi keberadaannya? namun hal ini yang menarik untuk dibahas sebab banyak orang di Afrika yang melaporkan mahluk terbang yang cocok dengan deskripsi Pterosaurus selama ratusan tahun terakhir dan juga banyak orang dilaporkan telah terbunuh oleh mahluk terbang dari zaman kuno ini.

Seorang pengelana yang bernama Frank H Melland bekerja untuk sebuah media di Zambia pada tahun 1923 yang mengumpulkan laporan dari pedalaman Afrika tentang sesesok mahluk ganas yang terbang. Para penduduk asli Afrika menyebut mahluk ini adalah Kongamato. Dikatakan oleh mereka bahwa Kongamato ini hidup di sebuah rawa-rawa bernama Jiundu diwilayah Mwinilunga sebuah distrik di bagian barat Zambia dekat perbatasan dengan Kongo dan Angola. Mahluk ini digambarkan tidak memiliki bulu, kulit berwarna hitam halus atau kemerahan, rentang sayap antara 4 hingga 7 kaki dan memiliki paruh penuh gigi.

Mahluk ini juga disebutkan sering membuat kano penduduk terbalik dan membuat siapa saja yang memandangnya menjadi tewas, dan ketika Melland menunjukkan sebuah gambar dari Pterosaurus, para penduduk asli tanpa ragu dan mengindentifikasikannya sebagai Kongamato.

Ditahun 1925 seorang responden surat kabar terkemuka Inggris bernama G Ward Price, beserta seorang pria yang akhirnya menjadi Duke of Windsor, melakukan kunjungan resmi ke Rhodesia. Price melaporkan sebuah cerita yang ia dapatkan dari seorang pegawai pemerintah Inggris dimana sang pegawai melaporkan bahwa ada seorang pria yang menderita luka-luka serius akibat masuk ke sebuah rawa-rawa yang sangat ditakuti di Rhodesia, yang dikenal sebagai rumah para setan. Pria pribumi ini bertekad masuk ke rawa untuk menjelajahinya terlepas dari kemungkinan bahaya yang akan menghadang. Saat pria tersebut kembali, ia sudah diambang kematian akibat sebuah luka besar didadanya. Pria tersebut bercerita bahwa seekor burung besar yang aneh dengan paruh panjang menyerangnya dan ketika sang pegawai pemerintah itu menunjukkan gambar Pterosaurus dari sebuah buku hewan prasejarah, pria pribumi itu menjerit ketakutan dan lari dari rumah itu.

Pada tahun 1942, Kolonel C R S Pitman menceritakan bahwa penduduk pribumi memberitahunya tentang keberadaan kelelawar yang mirip burung berukuran besar yang hidup didaerah rawa-rawa Rhodesia Utara (sekarang Zambia).Track dari mahluk tersebut masih terlihat ditanah dimana ada bukti ekor besar yang diseret ke permukaan tanah. Laporan-laporan semacam ini tidak terbatas hanya di Zambia, namun juga dari lokasi lain di Afrika, seperti di Gunung Kilimanjaro dan Gunung Kenya.

Para ilmuwan yang skeptis menduga bahwa kisah-kisah fantastis ini hanya merupakan hasil karya imaginatif suku pribumi Afrika, dimana kemungkinan berasal dari para pribumi yang dipekerjakan pada penggalian arkeologi dimana fosil Pterosaurus ditemukan di Tendagaru, Tanzania pada tahun-tahun sebelum perang dunia I.
Walaupun begitu, penggalian ini bertempat yang cukup jauh dari tempat dimana legenda mahluk terbang raksasa sering diceritakan. Tendagaru, Tanzania berjarak 900 mil atau sekitar 1.485 km. Lalu kenapa tidak ada laporan atau cerita bahwa ada mahluk terbang di Tanzania jika alasan para ilmuwan skeptis bahwa cerita tersebut adalah imajinasi dari para penduduk pribumi.

Salah satu kesaksian dari warga kulit putih adalah dari sekelompok peneliti dari British Museum pada tahun 1922-1923, Ekspedisi Percy Sladen yang berkelana jauh masuk kedalam hingga ke Afrika Barat. Ivan T Sanderson selaku orang yang bertanggung jawab atas ekspedisi tersebut adalah seorang zoologist ternama dan seorang pengarang. Pada suatu hari mereka tengah berburu dan Sanderson menembak seekor kelelawar pemakan buah, Mahluk tersebut jatuh ke bawah sungai yang mengalir deras, Anderson yang segera berlari mengambil hewan buruannya, kehilangan keseimbangan dan tergelincir masuk kesungai dan pada saat itulah rekannya memperingatkan ia dan berteriak Awas!, Sanderson melihat dan juga mendengarkan lengkingan disusul sesosok mahluk yang keluar dari air, yang langsung bergerak mendekati Sanderson dan hanya beberapa meter melayang diatas permukaan air, sesosok mahluk berwarna hitam seukuran elang. Sanderson hanya melihat sekilas namun cukup buat dirinya mengingat sosok mahluk itu, dengan rahang bawahnya yang terbuka lebar dimana terdapat gigi-gigi tajam berwarna putih melingkari rahang tersebut namun mahluk tersebut langsung pergi saat George tiba saat ia mengejar Sanderson yang terpelet masuk ke air.
Mahluk tersebut tampak kembali saat hari mulai gelap. Mahluk tersebut meluncur disungai dan memamerkan giginya yang tajam seperti dracula yang bersayap.Kedua pria tersebut saling berjaga dimana senapan keduanya telah siap sedia, lalu mahluk tersebut bergerak cepat kearah George yang segera merunduk dan hilang ditengah kegelapan.
Saat Sanderson dan George kembali ke camp mereka, mereka menanyai penduduk pribumi, Sanderson merentangkan kedua tangannya dan bertanya jenis kelelawar apa yang sebesar ini dan tubuhnya hitam semua? “olitiau” adalah respon yang mereka dapatkan, lalu mereka bertanya dimana Sanderson bertemu mahluk ini, dimana Sanderson menunjuk sungai tempat dimana ia bertemu mahluk tersebut. Para penduduk berhamburan melarikan diri dengan hanya mengambil senjata mereka dan meninggalkan barang berharga yang lain.
Jika ada anggapan bahwa mahluk yang menyerang Sanderson dan George adalah kelelawar pemakan buah yang mereka tembak, maka kelelawar pemakan buah dikenal tidak pernah menyerang manusia, selain itu Sanderson adalah seorang ahli hewan ternama dan berpengetahuan cukup baik sehingga jelas ia tampaknya tidak mengenal mahluk ini, selain itu kelelawar buah memiliki warna kecoklatan atau kekuningan sedangkan mahluk ini seluruh badannya berwarna hitam dan jelas Sanderson merujuk kelelawar ini sebagai Pterosaurus.

Perjumpaan lainnya kesaksian dari pria berkulit putih adalah pada tahun 1954, seorang insinyur bernama JPF Brown tahun 1956 di Zambia, pada saat itu ia tengah berkendara pulang ke Salisbury setelah berkunjung ke Kasenga di Zaire.Brown berhenti disebuah tempat yang bernama Fort Rosebery, dibagian barat dari danau Bangweulu untuk beristirahat. Saat itu pukul 6 sore dan ia melihat 2 mahluk terbang lambat namun secara perlahan-lahan mengarah kearah dirinya.Dengan penuh kebingungan ia mengamati bahwa mahluk tersebut adalah mahluk yang berasal dari zaman pra sejarah.
Brown memperkirakan bahwa rentang sayap mahluk tersebut sekitar 3-3.5 kaki,ekor panjang dan pipih, dan memiliki kepala yang runcing, yang ia samakan dengan moncong anjing yang memanjang.Salah satu mahluk tersebut membuka mulutnya dan terlihat barisan gigi yang tajam, ukuran panjang mahluk ini hingga ke ekor ia perkirakan 4.5 kaki.
Setelah laporan tersebut keluar, ada lagi laporan dari sepasang pria dan wanita bernama Mr & Mrs D.Gregor yang melaporkan bahwa mereka melihat sepasang mahluk terbang dengan ukuran 2-2.5 kaki terlihat seperti kadal panjang yang terbang di bagian selatan Rhodesia.
Dr J Blake-Thompson dalam laporannya menyatakan bahwa penduduk pribumi dari suku Awemba memberitahunya bahwa ada mahluk terbang berukuran besar seperti tikus yang suka menyerang manusia, mereka tinggal di gua-gua yang berada di tebing didekat sumber air sungai Zambezi.

Di sebuah rumahsakit di Fort Rosebery, ditempat dimana JPF Brown pernah melaporkan, ditahun 1957 ada pasien yang datang dengan luka parah didadanya, dokter menanyakan padanya apa yang terjadi dan penduduk pribumi menyatakan bahwa seekor burung besar menyerangnya di rawa Bangweulu, Saat ia disuruh untuk menggambarkan burung tersebut, penduduk pribumi itu menggambarkan mahluk yang menyerupai Pterosaurus.

Tidak berapa lama lembah Zambezi dibanjiri oleh air akibat dari proyek pembangunan dam PLTA Kariba. Koresponden untuk harian Telegraph, Ian Colvin berada ditempat kejadian dan berhasil mengabadikan sebuah foto yang kontroversial berupa foto Pterosaurus, namun baru-baru ini ditemukan bahwa foto tersebut adalah palsu.

Laporan mengenai mahluk terbang raksasa dari zaman pra sejarah tidak hanya berkisar di wilayah rawa-rawa, namun terdapat juga laporan penampakan di gurun Namibia. Prof Roy Mackal memimpin sebuah ekspedisi peneliatian ke gurun Namibia pada tahun 1988 dimana dilaporkan bahwa ada mahluk dengan lebar sayap hingga 30 kaki. Mahluk Cryptid dari bangsa unggas (Avian) biasanya meluncur di udara, namun juga memiliki kemampuan terbang sejati. Biasanya terlihat menjelang senja, meluncur diantara celah-celah dua buah bukit yang terpisah 1 mil. Meskipun ekspedisi ini tidak mendapatkan bukti yang kuat namun salah seorang anggota tim, James Kosi dilaporkan melihat mahluk tersebut dari jarak 1000 kaki lalu mahluk tersebut pergi.

Pertanyaan terbesar adalah apakah mungkin mahluk dari zaman pra sejarah yang telah punah dari masa 65 juta tahun lalu masih berkeliaran didaerah rawa-rawa dan daerah pegunungan panas gurun Afrika, atau ada penjelasan sederhana lain yang bisa dikemukakan untuk penampakan ini.
Ada dua jenis burung yang hidup di rawa Zambia yang bisa jadi salah satu dari penampakan mahluk prasejarah tersebut, terutama pada kondisi dimana intensitas cahaya rendah atau di malam hari.

Salah satu tersangka adalah Bangau Shoebill yang berwarna gelap dengan rentang sayap 8 kaki, dan penampilannya yang jelas seperti mahluk prasejarah. Burung ini telah menjadi burung langka, dan mereka hanya dapat ditemukan dalam relung rawa-rawa di Zambia dan negara sekitarnya. Namun permasalahannya adalah bahwa tidak ada nya bukti bahwa burung Shoebill ini pernah berperilaku agresif terhadap manusia, dan pada kenyataannya burung ini berusaha untuk menghindari manusia sejauh mungkin.Selain itu burung ini tidak memiliki gigi, selain itu tidak ada burung lainnya yang dikenal yang memiliki gigi

Burung aneh lainnya adalah burung bernama Saddle billed stork, burung yang lumayan cantik ini merupakan sejenis bangau dengan rentang sayap hingga 8.5 kaki. Meskipun burung ini jelas sangat berbeda dengan Pterosaurus namun ia memiliki paruh yang hampir mirip Pterosaurus. Selain itu sangat tidak mungkin bangau ini agresif untuk menyerang manusia walaupun ia menderita kesakitan atau terancam oleh manusia.

Terkait laporan apakah mahluk tersebut nyata atau hanya kesalahan penampakan, atau merupakan benar-benar Pterosaurus ataukah burung dan kelelawar yang jenis nya belum diketahui, mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Banyak lokasi dan tempat didunia yang masih belum di jelajah yang kemungkinan mahluk seperti tersebut masih eksis.Apalagi rawa-rawa di Afrika yang jarang dikunjungi manusia, yang banyak ditumbuhi tanaman merambat serta semak-semak belukar.Selain itu permasalahan lainnya adalah serangga, sarana transportasi dan jalan raya yang belum menyentuh daerah tersebut.
Hal lain diperparah oleh kondisi politik yang tidak stabil di Afrika, dimana sering terjadi pertempuran dan pertumpahan darah yang membuat para peneliti enggan dan takut untuk mencemplungkan diri meneliti hal-hal seperti itu dimasa kini. Banyaknya gerombolan bersenjata, sikap tidak bersahabat kepada kaum non pribumi yang datang sedangkan penelitian memakai pesawat tidak efektif akibat tertutupnya pemandangan kebawah oleh rerimbunan pohon tebal dan rawa-rawa dalam yang hanya bisa sedikit atau tidak sama sekali terlihat dibawahnya.
Afrika adalah sebuah benua tua yang menyembunyikan rahasianya dengan baik, Jika benar ada Dinosaurus yang masih hidup hingga saat ini, maka Afrika adalah kandidat yang tepat untuk menyembunyikannya dibebalik rerimbunan pepohonan dan kawasan rawa-rawa Afrika.

Statistik Kongamato (Jika benar adanya)
– Klasifikasi = Avian Reptile (Reptil terbang)
– Ukuran     = Rentang sayap 4-8 kaki beberapa laporan menyatakan bahwa ada yang memiliki rentang sayap hingga 30 kaki.
– Berat        = Tidak diketahui.
– Makanan  = Merupakan Karnivora, ikan dan terutama hewan pengerat.
– Lokasi      = Afrika
– Daya gerak = Terbang
– Habitat     = Rawa-rawa Afrika dan daerah pegunungan gurun Namibia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s