Berbagai Alasan Kenapa Para Pendaki Gunung Itu Cool!

Mendaki gunung adalah salah satu kegemaran yang lumayan populer. Berbekal perlengkapan dan logistik, seorang pendaki rela menyambangi hutan, menembus gelapnya kabut, dan mengalahkan dingin udara pegunungan demi bisa sejenak bercumbu dengan puncaknya.

Perjalanan menuju puncak mungkin terdengar biasa bagi kita yang belum pernah menjajalnya. Tapi, bagi dia yang pernah menjejakkan kaki di puncak-puncak tertinggi, mendaki tidak pernah dianggap “sederhana”. Mendaki adalah caranya merayakan kehidupan, mencerapi, dan menjadikannya bermakna.

1. Pendaki Adalah Dia yang Bisa Memantapkan Hati

dia bisa memantapkan hati

Berawal dari sekedar keinginan, misalnya setelah menonton film tentang pendakian atau melihat foto salah seorang teman yang menyunggingkan senyum di puncak gunung. Niat untuk menjajal pendakian muncul, tapi tak begitu saja buru-buru dieksekusi. Butuh proses untuk meyakinkan diri sendiri bahwa sebuah keinginan tak boleh dibiarkan cuma jadi sekedar angan-angan.

Banyak yang mendukung, pun tak jarang orang lain tertawa dan meremehkan. Cerita mereka yang mendapati pengalaman tidak menyenangkan saat mendaki mungkin sempat membuat ciut mental. Tapi, bukan berarti niat boleh begitu saja luntur. Dia percaya bahwa keberhasilan adalah tentang meyakini dan berusaha.

 

2. Pendaki Mengerti, Pencapaian Selalu Datang Sepaket Dengan Usaha

pencapaian butuh usaha

Melatih fisik sebelum mendaki wajib hukumnya demi bisa berjam-jam berjalan melewati hutan, tanjakan berpasir, atau ganasnya udara dingin. Lari 4x seminggu, konsumsi makanan sehat, cukup istirahat; banyak hal yang sengaja dia lakukan demi menjaga stamina dan kebugaran tubuh. Selain itu, kondisi mental pun tak kalah jadi perhatian. Berusaha untuk selalu berpikir positif dan tetap percaya diri tanpa sedikit pun berniat jumawa mengalahkan alam.

Yang pasti, setiap pencapaian pastilah dibarengi usaha. Keinginan dan niat yang kuat menuntunnya untuk tak malas-malas. Semakin besar keinginan, maka semakin gigih pula usaha untuk mencapainya.

3. Ia yang Biasa Mendaki Tahu, Setiap Langkah Harus Diambil Dengan Pertimbangan Matang

JHVU

Seorang pendaki akan masak-masak memikirkan segala sesuatunya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai puncak lalu kembali turun, jumlah logistik yang harus dibawa, hingga seberapa dingin suhu yang akan dihadapi. Selain cermat menganalisa, pendaki juga tak kalah sigap mengantisipasi segala kemungkinan. Cuaca yang tidak bisa diprediksi, tersesat, kelelahan, cedera, hingga kemungkinan bertemu orang jahat pun sudah diperhitungkan baik-baik.

4. Dia Adalah Pribadi yang Mengerti Arti Sebuah Kepercayaan

DSC_00

Dalam pendakian, memegang kepercayaan pada teman satu tim menjadi sangat penting. Bagaimanapun, sesama anggota tim akan saling menjaga demi bisa bertahan hidup di alam liar. Seorang pendaki percaya bahwa teman-teman dalam tim tidak akan membiarkannya berjalan tertatih karena kelelahan. Dia pun tidak akan mengkhianati teman yang cedera dengan meninggalkannya lalu nekat melanjutkan perjalanan sendirian. Yup, menjadi pendaki berarti belajar untuk mau percaya sekaligus menjadi pribadi yang bisa dipercaya.

5. Pendaki Juga Meyakini Bahwa Doa Bisa Jadi  Sumber Kekuatan

doa adalah kekuatan

Semesta alam punya kuasa luar biasa dan seorang pendaki mengerti hal itu. Ketika maut bisa saja setiap saat menjemput, tak ada pilihan lain selain berserah pada Sang Pencipta tertanda sejak langkah paling pertama. Berdoa sebelum memulai pendakian adalah ritual wajib, pun setelah menyelesaikan pendakian dan kembali pulang.

6. Pendaki Adalah Dia yang Paling Mengenal Dirinya Sendiri

DSC_0087-GOOD

Konon, sifat seseorang akan benar-benar telihat saat melakukan pendakian. Pemberani atau penakut, kuat atau gampang mengeluh, jujur atau suka berpura-pura, sabar atau gegabah; berbagai karakter asli manusia akan muncul saat berada dalam kondisi yang tidak nyaman.

Dia yang terbiasa mendaki berarti sudah lulus mengenal dirinya sendiri. Menjadikan perjalanan pulang sebagai momen refleksi. Memilah sikap dan sifat baik yang perlu dipertahankan, pun karakter negatif yang harus buru-buru dibuang.

7. Perjalanan Mengajarkan Pendaki Bertumbuh Jadi Pribadi yang Perasa

menjadi pribadi yang perasa

Bukan perkara diri sendiri, tapi memperhatikan orang lain juga sama pentingnya. Perjalanan selama pendakian menjadikan pendaki lebih peka terhadap lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Misalnya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan saling dilontarkan pada rekan dalam pendakian:

“Mau istirahat dulu nggak, nih?”

“Kamu masih kuat, kan?”

“Sudah lapar?”

8. Pendaki Adalah Orang yang Gigih dan Punya Semangat Juang Tinggi

gigih dan punya semangat juang tinggi

Pendakian sudah pasti menguras tenaga. Ritme langkah yang cepat di etape pertama seringkali tak bisa bertahan di etape berikutnya. Puncak yang tak kunjung dijejak membuat kata “menyerah” sudah bersiap di ujung lidah.

Namun, pendaki adalah dia yang terbiasa menempa dirinya sendiri. Berusaha mati-matian mengabaikan rasa lelah demi bisa fokus pada target atau tujuan awal yang sudah ditetapkan. Meskipun harus mengais sisa-sisa tenaga, semangat untuk mencapai puncak mati-matian dipertahankan.

9. Naluri dan Insting Adalah Hal yang Tak Pernah Diremehkan oleh Para Pendaki

percaya pada naluri

Seorang pendaki menjadikan naluri sebagai pegangan. Baik secara alami maupun berasal dari pengalaman, dia terbiasa memilih segala sesuatu dengan presisi. Memilih jalan memutar dengan waktu tempuh lebih lama atau nekat memotong jalan dengan menjajal turunan curam, dia punya sekian perhitungan sebelum memutusakan. Yang pasti, dirinya percaya bahwa setiap keputusan bisa jadi meringankan atau justru berakibat fatal.

10. Pendaki Terdidik Jadi Pribadi yang Mudah Bergaul

pendaki itu mudah bergaul

Tak harus bergabung dalam komunitas atau menyambangi gigs, gunung bisa jadi tempat untuk menjalin pertemanan. Biasanya, para pendaki akan saling menyapa ketika berpapasan di jalur pendakian. Ketika sama-sama berhenti untuk beristirahat, saling bertanya nama dan daerah asal sudah jadi ritual. Bahkan, ketika melihat pendaki lain yang sedang kelelahan, mengucapkan kalimat penyemangat seperti: “Ayo sedikit lagi. Semangat, Kak!” adalah hal yang biasa. Tak ada istilah ‘orang asing’ di gunung karena sesama pendaki adalah teman.

11. Keterbatasan Tak Menjadikan Dia Pelit atau Enggan Berbagi

berbagi jadi kebiasaan

Pendaki punya jiwa korsa yang tinggi. Baik dengan teman satu tim atau pendaki lain, saling tolong-menolong menjadi hal wajib. Berpapasan dengan pendaki lain yang kehabisan air minum tidak menjadikannya acuh. Meskipun persediaan air miliknya juga terbatas, dia tak ragu untuk sejenak berhenti dan berbagi beberapa teguk. Sadar atau tidak, sedikit pemberian darinya bisa jadi menyelamatkan nyawa orang lain.

12. Mendaki Membuat Mereka Belajar Mengalahkan Diri Sendiri

mengalahkan diri sendiri

Pengalaman mendaki bisa jadi berakibat perubahan besar-besaran dalam hidup. Tentang bagaimana para pendaki bisa mengalahkan diri sendiri dan menemukan diri mereka yang baru dan lebih tangguh. Minimnya nafsu makan bukan berarti sah melakukan perjalanan dalam kondisi perut kosong. Udara dingin yang seperti menusuk-nusuk tulang tidak menjadikannya berlama-lama dalam tenda dan enggan melanjutkan perjalanan. Kadang, melawan diri sendiri justru yang menjadikan seseorang berhasil.

13. Pendaki Adalah Pribadi yang Bisa Menghargai Kebaikan-Kebaikan Kecil

menghargai sekitar

Pemandangan yang indah, udara sejuk, dan nyamanya suasana pegunungan jadi bukti bahwa alam sudah demikian berbaik hati pada manusia. Seorang pendaki terbiasa menghargai segala yang ditemui sepanjang pendakian. Tidak meninggalkan sampah di gunung, memeriksa sisa-sisa api unggun, pantang membuat corat-coret atau merusak tanaman. Ketika bisa menghargai segala yang ada disekitarnya, dia pun sudah pasti menghargai dirinya sendiri.

14. Kakinya Menjejak Puncak-Puncak Tertinggi, Tapi Hal Itu Justru Menjadikan Dia Rendah Hati

belajar rendah hati

Setiap langkah adalah pertaruangan dengan diri sendiri. Sementara, tiba di puncak berarti merasakan momen haru yang berbalut rasa bangga dan syukur. Namun, sebuah keberhasilan tak begitu saja menjadikan seorang pendaki menjadi sombong. Keindahan luar biasa di atas puncak gunung justru menyadarkan bahwa dirinya begitu “kecil”. Puncak memberikan pelajaran bahwa tidak selayaknya manusia berhak jumawa diantara kebesaran alam yang luar biasa.

15. Pendaki Adalah Dia yang Menjadikan Hidupnya Lebih Bermakna

C360_2014-09-21-08-47-14-33

Alam mengajarkan manusia bahwa hidup bukanlah sekadar soal materi. Kasarnya, gunung menjadikan sebotol air minum atau sepotong roti jauh lebih berharga daripada beberapa lembar uang. Pengalaman mendaki juga mengajarkan pentingnya punya visi dan misi yang jelas dalam hidup.

Cita-cita sah-sah saja di letakkan setinggi-tingginya, tapi perjuangan untuk bisa meraihnya adalah hal mutlak. Yang pasti, para pendaki paling tau bahwa hidup tak harus dijalani dengan ambisi yang buta. Kunci sukses adalah tetap santai namun fokus pada target yang diinginkan.

Nah, gimana? Membaca artikel ini mungkin sedikit mengubah penilaian kita pada mereka yang gemar mendaki, ya! Berhari-hari berada di gunung tanpa mandi mungkin membuat pendaki terlihat berantakan atau kumal. Tapi, hal-hal dalam artikel ini menjadikan mereka layak mendapat predikat keren, ‘kan?

hipwee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s